Artikel Terbaru Berita PSGC

PSGC, Stadion Galuh, Herdiat dan Kosong nya Tribun

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Stadion Galuh… Siapa yang tak mengenal nya?? Hijau nya rumput, Rapi nya Lingkungan Stadion dan Strategisnya Lokasi membuat Stadion Galuh Ciamis yang berdampingan dengan Terminal akan mudah diakses. Belum lagi Persib dan bobotoh yang menganggap Stadion ini seperti rumah kedua, membuat Stadion Galuh dikenal Luas.

PSGC Ciamis… Siapa yang tak tahu?? team kebanggaan Kabupaten Ciamis ini menggebrak blantika Sepakbola Indonesia ketika hampir Promosi Ke ISL dan Tampil ciamik di Piala Presiden. Sekarang PSGC bisa disebut sebagai maskot Kota Ciamis setelah Pangandaran memisahkan diri. Bukan Lagi Galendo, bukan juga Raflesia atau pun Ciungwanara, Ketika berbicara Ciamis, maka PSGC adalah hal pertama yang akan diingat.

Herdiat… Warga Ciamis mana yang tak kenal?? Setda Kabupaten Ciamis ini sangat lekat dengan PSGC selain juga sosok Heri Rafni Kotari. Sosok Pria Penuh Wibawa dan selalu menebar senyum ini sudah bekerja keras menjadi lokomotif PSGC Ciamis. Tanpa mengesampingkan jasa dan peran Pihak lain, PSGC tanpa Herdiat hampir mustahil menjadi sebesar ini.

Daya Tarik Tiga Hal diatas, (Stadion Galuh, PSGC, dan Sosok Herdiat) ternyata tak cukup untuk membuat Pecinta Bola Ciamis dan sekitar nya memenuhi Tribun. Berbagai usaha sudah ditempuh, bahkan menggratiskan tiket masuk pun tak jua menjadi solusi.

Sebelum panjang lebar menjabarkan Mengapa dan Harus Bagaimana,, Mari kita sepakati dulu bahwa Sepakbola tanpa Suporter adalah sebuah keniscayaan, adalah sebuah “kesalahan”. Suporter adalah Pemain ke 12, itulah mengapa Hukuman Laga tanpa penonton seringkali membuat pertandingan menjadi tanpa “darah”.  Awalnya saya berasumsi bahwa, Gaji dan Fasilitas Bagus cukup untuk membuat Pemain terbakar semangat dan loyalitasnya. Tapi ternyata asumsi yang saya bangun terbantahkan setelah mendengar curahan hati dan mencoba memposisikan diri di posisi Pemain. Saya, (jelek jelek gini juga mantan pemain bola sebelum patah kaki) akhir nya merasakan arti penting visualisasi Penonton di tribun bagi pemain. Saat keluar dari locker room dan memasuki lapangan, sebelum bercinta dengan hijaunya rumput stadion galuh, pandangan mata punggawa PSGC selalu tertuju ke tribun. Mereka tentu saja berharap dukungan Suporter, mereka tentu saja akan merasa lebih dihargai ketika jumlah penghuni tribun sesuai denngan ekspektasi nya. Jika hanya Suara yang keras, mungkin speaker atau sound Stadion bisa jadi solusi, tapi visualisasi dan penampakan tak bisa ditutupi. Mereka menatap tribun dan bertanya dalam hati: “Kemana Warga Ciamis??”

Lalu Apa Yang Sebenarnya Terjadi? Dan Mengapa Terjadi??

PERSIB

Tak terbantahkan lagi, warga Jabar termasuk juga didalam nya Ciamis, terlahir sebagai Seorang BOBOTOH. Persib adalah “Warisan Budaya” bagi Orang Sunda. Relung hati mereka seperti sudah terpenuhi dengan warna BIRU dan susah sekali meyelipkan warna Ungu. Salahkah mereka? Tentu saja tidak, mereka dan saya juga adalah bobotoh persib, perbedaan nya adalah saya dan sebagian kecil teman teman lain mampu menempatkan PSGC di dada tanpa sedikitpun mengurangi kecintaan pada Persib., sementara sebagian besar yang lain nya belum.

Yang harus kita lakukan bukan dengan cara memaksa mereka berganti baju, karena pada hakekatnya, saat ini Persib bukan lah kompetitor bagi PSGC. Justru PSGC harus menggunakan Persib sebagai Pendongkrak Kualitas dan Popularitas. Pendekatan yang harus Kita gunakan adalah mengangkat PSGC Sebagai sebuah “KEBANGGAAN” dan tetap mempertahankan Persib sebagai “WARISAN BUDAYA”, bukan malah memperolok mereka dengan menganggap nya tak cinta daerah dan team lokal. BaladGaluh, Curva Sud, Baraya Galuh dan komunitas suporter lain yang harus satu visi untuk berjuang menambah anggota agar SGC dapat dipadati Penonton.

MANAJEMEN

Jika berbicara Manajemen Club sepakbola, tugas pokok nya memang menyiapkan team beserta kebutuhan yang timbul karena nya. Tetapi, pada era modernisasi dan industrialisasi sepakbola, marketing manajemen adalah salah satu hal penting dan tidak bisa dipungkiri. Promosi sebagai bagian dari Proses Marketing harus menjadi fokus utama Manajemen. Dengan segala Daya dan Upaya yang telah dilakukan manajemen ternyata hasilnya masih jauh dari memuaskan. Pasti ada yang kurang tepat jika hasil nya tidak maksimal, dan sebelum kita menentukan langkah yang tepat maka kita wajib menyadari dan mengakui kesalahan kita, agar langkah kedepan tepat. Lalu apa yang salah? Tanpa bermaksud “sok tau” atau “menggurui”, secara kasat mata, pola promosi PSGC masih sangat konvensional, sentuhan marketing dan teknologi informasi belum ada.

Sebagai contoh, penjualan tiket ke instansi sampai ke desa desa justru kurang efektif. Penetrasi nya mungkin sangat bagus, tetapi sasaran kurang tepat. Rasa Cinta dan Rasa memiliki sebaiknya lebih dulu dibangun, agar nanti nya bukan tiket yang mengejar warga, tetapi warga yang mencari tiket.


Harus digaris bawahi, TIKET bukan tujuan, tiket adalah alat untuk membawa Penonton datang ke Stadion. Apa artinya tiket sold out jika tribun KOSONG????!!

Pola Promosi yang lebih sistematis harus dirumuskan dan segela digulirkan, tenaga ahli merketing sudah selayaknya di hadirkan untuk membantu manajemen bahkan bila kiranya diperlukan, PSGC harus memiliki divisi marketing yang profesional.

Cara cara sederhana seperti Road Show yang pernah dilakukan masih bisa di aplikasi lagi tetapi dengan obyek atau sasaran yang berbeda. Bukan lagi road show ke desa dengan melakukan laga eksebisi, tetapi roadshow ke sekolah sekolah karena harus harus disadari, basis suporter terbesar adalah usia sekolah. Jumpa fans di tiap SMA/K dan SMP akan sangat efektif. Coba tengok saja di Tut Wuri Handayani Cup kemarin. SMK 2 mampu menghadirkan suporter yang memenuhi tribun selatan, tak sulit seharus nya merayu nya untuk memenuhi tribun saat PSGC bermain.

Fantasi, Imajinasi penulis masih sangat liar, tetapi sepertinya tidak akan cukup dituangkan pada artikel ini. Akhirnya, kata kunci yang didapat adalah KEBANGGAAN. Jika rasa bangga itu sudah tumbuh, Tiket tak perlu lagi dijual paksa, diobral atau bahkan di gratiskan. Demi kebanggaan mereka akan membayar nya. Mari tempatkan PSGC sebagai KEBANGGAAN dengan tetap mengakui PERSIB sebagai “Warisan Budaya”.

Sebagai penutup, apa yang saya tulis semata mata sebuah upaya agar tema “Pinuhan Stadion” yang di kumandangkan bukan hanya jadi sebuah “tema” tetapi bisa segera terealisasi. Mohon maaf jika terdapat kekeliruan dan ketidak pantasan pemilihan kata. Terimaksih telah meluangkan waktu untuk membaca.

PSGC adalah sebuah KEBANGGAAN….!!!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

About the author

Ilham Nurhamzah

Orang baik tidak akan pernah tertukar!

2 Comments

Click here to post a comment

  • Keren kang tulisana
    Sing sukses ah PSGC abi sebagai fans persib ngadoakeun cing PSGC ka isl kapayuna, stadion pinuh, antri tiket atas dasar kecintaan ka psgc na

IKLAN JADWAL PSGC BANNER
dodol
BJB 1
pancanaka
logo3
13479974_1100371913356845_2058352115_n

Like & Follow Kami!

Instagram

Sejarah PSGC

Jalan Panjang PSGC

MANAGER TIM  H.HERDIAT S
MANAGER TIM
H.HERDIAT S
SEPAK BOLA tak pernah kering dari perbincangan dan tak pernah surut dari perhatian,bahkan sepak bola seakan menjadi "magnet" besar bagi seluruh masyarakat diberbagai pelosok negeri. Di Brazil contohnya sepak bola seakan telah menjadi "agama" kedua bagi masyarakatnya,di daratan erofa sepak bola telah menjadi sebuah industri,industri sepak bola yang tak kalah menjanjikan dengan industri lainya. Berbicara kemajuan sepak bola diranah ibu pertiwi,khususnya di Kabupaten Ciamis,